Entah, mungkin diri ini sedang sukar untuk bersenda gurau, untuk ceria pun bibir ini malu bahkan hanya untuk sekedar mengangkatkan sedikit ototnya. Sebuah kegelisahan tentang jiwa yang tengah menengok kearah luar dunia yang fana, merasa tak berharga dan entah harus berbuat apa. Kini hanya kesendirian yang bisa berkata banyak, menemani setiap hembusan angin yang menabrak ego disetiap hela nafas tubuh ini, sukar dipercaya tapi ini nyata, seolah tersadar bahwa diri ini sedang balap lari dengan waktu, waktu yang tak kenal lelah dan pernah berkata untuk tidak melihat kebelakang, karena dia takkan pernah menunggu kita.
Sendiri, hening, gelap, mungkin untuk sebagian orang adalah situasi yang membosankan. Bosan memang, tapi riang untuk hati yang terluka, senang tanpa ada air mata dan penyesalan, mungkin rasa syukur yang membuat sepi menjadi ramai, dan gelap menjadi silau, namun ini tak akan bertahan lama, saatnya bergerak, kita tau waktu takkan kembali bahkan hanya untuk sekedar memperlambat larinya.
Tapi untuk saat ini, aku hanya bisa nyaman dengan hening, dengan apa yang diberikan malam, dengan dingin yang membuat gigi ini ramai dan tangan yang senantiasa berusaha saling menghangatkan raga.
Dengan bising yang terdengar begitu kecil ditengah ramainya suara jangkrik dan hembusan rumput yang tertiup angin.
Ku rasa ada saatnya ku menjadi diri yang lama, kembali menjadi pribadi yang terdistorsi riang dan canda individu lain, berbahasa santun, senyum etis hanya untuk etika, dan berharap manis bisa datang dalam jiwa yang sunyi membuat gaduh suasana hati dan menerangkan jiwa yang mati.
Caringin tilu mereka menyebutnya, sebuah titik pelarian yang tak pernah lama ku berdiri disana, menanti lampu lampu kota menyala, suara seruan bertemu tuhan menggema, dan aroma asap baru dari api yang dipadamkan paksa, dan beberapa bunyi kepak sayap kelelawar kecil yang terbang melawan angin. Sungguh menenangkan jiwa, sungguh indah, mungkin saat ini ku hanya ingin menikmatinya sebelum saatnya ku bergegas menjadi seseorang yang menelan pil pahit kenyataan bahwa terlahir benar2 sendiri dan akan berjuang demi diri sendiri.
Islandia, destinasi berikutnya dimana perjuangan akan ku istirahatkan beberapa saat disana. Sedikit berharap agar hidup ini lebih dapat dinikmati.
Ruang sendiri, dua tujuh bulan delapan
Pukul sembilan lebih seperempat
Di kota pagi pembangun mimpi
Desa kecil dimana kakang kecil dilahirkan
Berusaha dewasa dimulai dari kata kata
Semoga
Titik.